Handicapped.

Tika turunnya hujan di bumi,

Muncul pula pelangi mewarnai langit semula,

Tika gelapnya langit pabila malam,

Muncul pula matahari menerangi seluruh bumi,

Bagai titisan air mata yang jatuh di pipi,

Namun tiada yang sudi menyekanya.

Aku manusia,

Tidak becus menempuh setiap onak dan duri di bumi fana ini seorang diri,

Bengkak menjadi nanah,

Luka menjadi parut,

Dan cacat menjadi kekal,

Walau berjuta maaf diterima,

Peritnya masih dirasai.

Lihat diriku,

Kesunyian menjadi teman,

Air mata menjadi sahabat,

Begitu jua letih menjadi pasangan,

Senyuman di bibir bisa diukir walau hati merana.

Terus-menerus aku memendam kebencian,

Sehingga ia menjadi dendam,

Dendam yang sememangnya pasti lahir dari kasih sayang,

Lalu bertukar penyakit yang hasilnya dari bahala tanpa sengaja atau sebaliknya.

Dengarkan aku,

Ini hanya secuil suara hatiku yang tak pernah kalian pahami,

Luahan hati dan perasaan yang tiada siapa ikhlas mendengar jauh sekali mengerti.

Hatiku menangis, meronta dan memekik lantang,

Malangnya tiada siapa mampu mengecamnya,

Lakonan sinetron luaran fisikal dan emosiku bak seniwati bintang pemenang anugerah,

Tergelak kecil aku ketika mengarang puisi ini,

Kerna jauh di lubuk hatiku,

Diri ini sedar akan hakikat dan realiti hidupnya yang ditempuhi.

Tuhan menciptakan daku dengan kepolosan hati,

Dari azali dan zahirnya ia suci,

Dan kerna Tuhan tidak ingin aku terkontaminasi,

Bukan dari radiasi, virus atau bakteri,

Tapi dari segala tetek bengek dan intrik duniawi.


F.R

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s